Leadership in CI

  • 14 Dec 2023 10:25

    Leadership in CI

    Peran Pemimpin untuk Keberhasilan Inisiatif Improvement

     

    Sudah menjadi common sense bahwa keberhasilan inisiatif continuous improvement tidak lepas dari peran pemimpin di organisasi. Namun masih banyak pemimpin belum memiliki ide yang jelas mengenai bagaimana mereka seharusnya berperan. Sebuah studi yang melibatkan 81 organisasi di dunia menemukan empat perilaku kepemimpinan yang terbukti menjadi pendorong keberhasilan inisiatif improvement di perusahaan.

     

    Sepertinya semua orang sudah tahu bahwa leadership itu penting. Namun masih saja kita dihantui pertanyaan tentang aspek kepemimpinan apa yang paling penting untuk dikembangkan dan dihargai. Haruskah fokusnya pada komunikasi dengan staf? Menjadi role model yang mencerminkan perilaku ideal di tempat kerja? Membuat keputusan secara cepat dan tepat, atau mendorong keterlibatan staf?

    Ada sebuah ungkapan yang terkenal, bahwa “kepemimpinan adalah pengaruh.” Walaupun satu kalimat tersebut tidak cukup untuk meringkas seluruh aspek kepemimpinan serta berbagai metode dan penerapannya, kita bisa mendapatkan ide utama dari ungkapan ini: Bahwa keistimewaan dari seorang pemimpin adalah ia dapat mempengharuhi orang lain—dengan berbagai macam cara.

    Ungkapan tersebut juga melukiskan gambaran yang jelas antara istilah manajemen dan kepemimpinan. Meskipun banyak individu yang memangku jabatan manajer telah menunjukkan kualitas kepemimpinan yang baik, manajemen hanyalah tentang mempertahankan proses dan kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Memiliki gelar “manajer” tidak menggambarkan kepemimpinan. Untuk memimpin, Anda harus bergerak, dan orang lain harus mengikuti. Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang statis.

    Dalam sebuah studi yang dilakukan McKinsey tentang kepemimpinan, ada sekitar 20 daftar lengkap yang menjelaskan perilaku pemimpin yang baik berdasarkan pengalaman pribadi dan penelitian akademis. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi seberapa sering perilaku kepemimpinan ini diterapkan dalam organisasi.

    Hasil studi yang melibatkan 81 organisasi di dunia ini menunjukkan bahwa ada empat perilaku pemimpin yang menghasilkan 89% kesuksesan. Empat perilaku tersebut adalah:

    Pemimpin harus suportif. Berdasarkan pengalaman, ini adalah salah satu perilaku kepemimpinan paling penting dalam menciptakan budaya continuous improvement, yang membuka peluang untuk organisasi tumbuh lebih kuat dan lebih sehat. Pemimpin yang mendukung karyawannya pada saat sukses dan gagal membangun kepercayaan dan rasa hormat di tempat kerja, yang menumbuhkan kreativitas, efisiensi, dan kolaborasi. Karena merasa didukung dan dipahami, karyawan dengan kepemimpinan yang suportif akan merasa nyaman dalam mengidentifikasi peluang untuk perbaikan, menghasilkan organisasi yang lebih kuat.

    Berorientasi kepada hasil. Komunikasi, keterlibatan, dan penetapan tujuan adalah perilaku kepemimpinan yang penting untuk inisiatif continuous improvement, namun semua hal itu akan percuma tanpa adanya fokus untuk mendapatkan hasil. Studi yang dilakukan McKinsey menemukan bahwa pemimpin dengan orientasi hasil yang kuat mendorong produktivitas dan efisiensi, yang pada akhirnya menghasilkan pekerjaan yang lebih baik, lebih banyak peningkatan, dan pada akhirnya, hasil yang lebih baik. Kita sering mendengar saran untuk fokus pada proses, tetapi organisasi terbaik juga menetapkan tujuan dan menggunakan proses yang lebih baik untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

    Atasi masalah secara efektif. McKinsey mendeskripsikan problem solving sebagai “Proses yang mendahului pengambilan keputusan... ketika informasi dikumpulkan, dianalisis, dan dipertimbangkan”. Ini adalah deskripsi yang tepat. Namun, bahkan pemimpin yang hebat pun biasanya tidak memiliki akses kepada semua informasi yang relevan saat menilai masalah, dan hal ini membuat mereka mempercayakan sebagian dari proses pemecahan masalah kepada karyawan yang memiliki perspektif tersebut. Bahkan para pemimpin terbaik pun tidak mungkin mengawasi semua hal yang terjadi di organisasi. Pemimpin yang hebat mengumpulkan informasi mereka dari karyawan di garis depan untuk memastikan bahwa mereka memiliki semua informasi yang mereka butuhkan untuk melakukan analisis dan pertimbangan yang akurat.

    Terbuka kepada perspektif baru. Tidak mengejutkan jika poin ini masuk dalam daftar perilaku kepemimpinan yang paling mendatangkan kesuksesan. Pemimpin yang baik tahu bahwa pendapat mereka tidak selalu benar, dan seringkali, anggota tim mereka memiliki kualifikasi yang lebih baik untuk membuat penilaian yang akurat. Mempertimbangkan berbagai perspektif memberi pemimpin pengetahuan yang lebih luas, memungkinkan mereka membuat keputusan yang lebih baik.

    Visi Pemimpin untuk Keberhasilan Inisiatif Improvement

    Agar upaya continuous improvement di organisasi berjalan efektif, sebagai pemimpin Anda harus memiliki visi yang jelas. Jika Anda memilih satu perubahan dan kemudian perubahan lainnya karena kemauan, Anda kemungkinan tidak akan memiliki dampak jangka panjang yang signifikan sebagai seorang pemimpin. Itulah mengapa penting bagi seorang pemimpin yang menghargai peningkatan berkelanjutan terlebih dahulu untuk mengklarifikasi dan mengkomunikasikan visi organisasi. Pertimbangkan visi tersebut sebelum membuat perubahan dan tanyakan, “apakah perubahan ini membantu kita menggapai visi kita?”

    Refleksi seperti ini membantu memastikan bahwa perubahan yang dibuat adalah real, alih-alih hanya merupakan to-do list yang didorong oleh ego atau idealisme palsu. Jika suatu perubahan tidak menghasilkan apa-apa untuk membawa organisasi lebih dekat kepada visinya, maka secara harfiah itu hanya membuang-buang waktu dan uang. Tak hanya itu, perubahan yang tak berarti hanya akan membuat tim Anda frustrasi.

    Jangan Lupa Evaluasi

    Aspek penting lainnya dari continuous improvement adalah evaluasi yang valid. Jika visi menjelaskan ke mana Anda akan pergi, evaluasi menjelaskan di posisi mana Anda saat ini. Ada banyak metode evaluasi yang dapat dipilih, seperti SWOT analysis, 5-Whys analysis dan sebagainya.

    Untuk mencapai level continuous improvement yang memiliki nilai bagi organisasi, Anda harus mengaktifkan mata dan pikiran dari seluruh organisasi. Evaluasi kolaboratif dapat memberikan berbagai perspektif tentang masalah dan membantu memastikan dukungan dari setiap sendi organisasi terkait perubahan yang diputuskan. Ketika semua orang memahami dengan jelas masalah yang terjadi, solusi yang diputuskan akan memberi energi yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang positif. Di sinilah peran sebagai pemimpin sangat krusial dalam setiap inisiatif continuous improvement di organisasi manapun.

    Menjalankan inisiatif improvement seringkali mengharuskan adanya perubahan budaya bagi para pemimpin dan tim mereka. Para pemimpin kemungkinan juga memerlukan pelatihan untuk membantu mereka mengubah perilaku dan praktik di organisasi jika mereka ingin mengadvokasi perubahan. Namun, ketika perubahan kepada sesuatu yang lebih baik sudah jadi bagian integral dari cara para pemimpin dan tim beroperasi, inisiatif improvement dapat mendorong organisasi untuk mencapai tujuan strategisnya.