-
14 Dec 2023 10:10Lean Six Sigma dengan Industri 4.0
Menguak Kekuatan di Balik Kolaborasi Lean Six Sigma dengan Industri 4.0
Pada era Industri 4.0, inovasi dalam teknologi komunikasi telah menghilangkan hambatan jarak dan geografi. Konektivitas telah menghasilkan sistem cerdas yang telah mengubah manufaktur dan bisnis. Dengan menyelaraskan Lean dan Six Sigma dengan teknologi Industri 4.0, produsen dapat mendorong peningkatan berkelanjutan, memaksimalkan efisiensi, dan meningkatkan nilai pelanggan.
Saat ini, kita semua pasti menyadari betapa dalam internet telah mendarah daging dalam kehidupan kita. Melalui segudang aplikasi, Internet telah membuka kita ke dunia baru informasi instan dan konektivitas di antara keluarga dan teman. Pendek katanya, Internet benar-benar mengubah hidup kita selamanya.
Hal yang sama juga terjadi dalam konteks dampak Industri 4.0 terhadap dunia manufaktur. Setiap hari, semakin banyak produsen yang menerapkan teknologi baru di pabrik mereka dalam upaya meningkatkan kualitas operasi, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan profitabilitas. Namun, banyak yang masih kesulitan dalam mencari cara terbaik untuk mendekati teknologi baru ini dan bagaimana menemukan teknologi yang cocok dengan bisnis mereka. Salah satu cara untuk lebih memahami bagaimana caranya mencapai pabrik "pintar" adalah dengan memikirkannya dalam konteks Lean Six Sigma.
Perusahaan manufaktur yang telah memulai implementasi Industri 4.0 telah mengalami peningkatan pesat dalam aksesibilitas data, daya komputasi, dan konektivitas, semuanya dimungkinkan menggunakan sensor, komputasi awan, Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). Hal ini mendorong peningkatan penggunaan Data Analytics – yang biasa disebut “Big Data”, atau data yang dikumpulkan secara otomatis – untuk mendorong strategi bisnis dan membuat keputusan yang solid berdasarkan fakta. Dengan lebih banyak manufaktur yang menghasilkan data dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya, Big Data Analytics telah menjadi topik hangat di kalangan pelaku industri manufaktur.
Di situlah peran Lean Six Sigma. Teknik data mining seperti pengelompokan, asosiasi, prediksi, klasifikasi, dan algoritma penambangan proses membantu organisasi mencapai keputusan yang benar dan optimal dalam berbagai tahap Lean Six Sigma. Saat ini, seiring dengan upaya perusahaan untuk beralih kepada operasi digital, tool Lean Six Sigma yang sesuai dapat diterapkan untuk memperluas inisiatif yang telah dimulai perusahaan.
Sebagian besar perusahaan telah menanggapi evolusi ini dengan mengakselerasi setiap operasi yang digerakkan oleh proses yang didukung oleh Big Data, yang dipandu oleh praktisi atau konsultan Lean Six Sigma. Namun sangat penting untuk perusahaan agar tidak salah paham dan terlalu mengandalkan kemampuan baru mereka, dan menganggap mereka tidak lagi membutuhkan implementasi Lean Six Sigma.
Pada kenyataannya, ketika menyelaraskan IoT dan Industri 4.0 dengan metodologi Lean Six Sigma, tools yang biasa kita kenal akan menjadi lebih relevan. Mengapa? Karena kebutuhan akan proses kualitas yang dapat diandalkan akan tetap ada. Selain itu, tools Lean Six Sigma memberdayakan analisis dinamis dan efisien dari proses yang kompleks dan tidak terlalu rumit, memungkinkan organisasi untuk lebih memanfaatkan sejumlah besar data.
Dengan cara ini, perusahaan dalam skala apapun dapat dengan mudah menciptakan operasi yang lebih efisien, mampu meningkatkan kecerdasan bisnis, mengidentifikasi inisiatif strategis, dan menyediakan produk dan layanan yang lebih baik untuk pelanggan mereka.
Apa Itu Industri 4.0?
Tidak seperti revolusi industri masa lalu, Industri 4.0 tidak hanya melibatkan satu lompatan ke depan dalam inovasi, melainkan penggabungan dari banyak inovasi. Ini termasuk sensor yang mengumpulkan dan mengirimkan data sebagai bagian dari Internet of Things (IoT), Software as a Service (SaaS), cloud, robotika, dan teknologi kognitif seperti pembelajaran mesin (machine learning) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Sebagai contoh, Industri 4.0 dapat diwujudkan berupa peralatan mesin yang memperingatkan operator saat mereka menyimpang dari spesifikasi atau komponen yang mengirimkan data kepada produsen tentang cara pelanggan menggunakannya. Bagi pelanggan, teknologi pintar mencakup lemari es yang menawarkan peringatan ketika Anda hampir kehabisan stok bahan makanan penting atau mobil pintar yang mampu parkir paralel.
Dari perspektif sejarah, iterasi dari revolusi industri adalah sebagai berikut:
Industri 1.0 – Pada akhir abad ke-19, mesin bertenaga air dan uap meningkatkan kemampuan produksi.
Industri 2.0 – Listrik muncul di awal abad ke-20, menjadi sumber tenaga utama dan jauh lebih mudah digunakan daripada air dan uap.
Industri 3.0 – Pembuatan transistor dan chip sirkuit terintegrasi menghasilkan mesin, komputer, dan sistem perangkat lunak otomatis.
Industri 4.0 – Inovasi dalam teknologi komunikasi telah menghilangkan hambatan jarak dan geografi. Konektivitas telah menghasilkan sistem cerdas yang telah mengubah manufaktur dan bisnis.
Tujuan organisasi yang beroperasi dengan teknologi Industri 4.0 adalah untuk menyinkronkan mesin cerdas dalam seluruh proses end-to-end, termasuk pemasok, manufaktur, dan pengiriman barang. Ini juga melibatkan pengoptimalan dan pengintegrasian sistem yang mengatur inventaris, logistik, dan transportasi.
Industri 4.0 dan Lean Six Sigma, jika digunakan untuk saling menyempurnakan, dapat membawa banyak sekali manfaat.
Konsep longgar yang disebut revolusi industri keempat ini mengelompokkan sejumlah teknologi yang mencapai tingkat kematangan yang memungkinkannya untuk diimplementasikan dan diterima tidak hanya di industri, namun juga dalam banyak proses di masyarakat modern.
Karena teknologi berkembang lebih cepat dari sebelumnya, Industri 4.0 menawarkan peluang bisnis baru. Pikirkan produk konsumen baru seperti jam tangan pintar dan mobil otonom. Namun, selain pasar konsumen, teknologi ini juga memungkinkan proses manufaktur dan transaksional saat ini untuk menerapkan peningkatan, yang memengaruhi cara mereka melakukan aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan pemaparan para ahli (yang telah kita singgung sedikit di atas), berikut teknologi yang muncul sebagai elemen kunci dari Industri 4.0:
- Industrial Internet of Things (IoT) berarti melengkapi elemen lingkungan manufaktur (pelengkap tool manufaktur) dengan teknologi penginderaan jauh yang memungkinkan lebih banyak data dan informasi dikumpulkan.
- Pencetakan 3D menawarkan kepada produsen metode yang cepat dan terjangkau untuk menghasilkan prototipe dan menampilkan produk baru dengan jauh lebih cepat daripada metode prototipe klasik.
- Drone menawarkan pandangan mata burung (bird eye) karena memungkinkan pengawasan di area yang luas, dan dapat diterapkan di area berbahaya atau tidak terjangkau.
- Blockchain dapat menawarkan solusi dengan keterlacakan penuh, di mana kepercayaan dan keandalan hilang dalam proses kita saat ini.
- Augmented reality (AR) dapat mendukung tenaga kerja dengan menunjukkan hasil pengukuran real-time, tugas, dll. Ini dapat memandu pekerja saat memulai proses yang tidak dikenal atau menghadapi situasi baru.
- Virtual reality (VR) menawarkan cara baru untuk mengajar, menunjukkan dan berbagi pembelajaran dan pengalaman.
- Antarmuka pengguna baru (new user interface) membawa metode komunikasi baru ke area kerja pabrik. Melalui chatbotsatau kontrol suara, karyawan dapat mengontrol dan mengoperasikan perangkat dan mesin, dan sebagainya.
- Robotika menawarkan kepada kita cara untuk melakukan tugas yang sama berulang kali, dengan tingkat pengulangan yang tinggi, bukan dengan mempekerjakan manusia tetapi dengan menggunakan program.
- Kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) memungkinkan pemrosesan big data dan menawarkan kemungkinan untuk memperoleh wawasan baru, misalnya dalam pola yang saat ini berada di luar jangkauan. AI juga membantu mengidentifikasi hubungan antara apa yang kami ukur dan bagaimana kami harus merespons hasilnya.
- Komputasi awan (cloud computing) memungkinkan data diproses dari jarak jauh (di cloud) dan memberi kita akses kepada banyak daya komputasi dan memori tanpa perlu menyiapkan infrastruktur apa pun.
Bagaimana Industri 4.0 Mendukung Lean Six Sigma
Dalam konteks metodologi Continuous Improvement, Industry 4.0 memberi kita alat dan solusi baru untuk mendukung industri dalam upaya mereka menerapkan metodologi ini. Teknologi ini memberi nafas baru untuk inisiatif improvement karena menyediakan lebih banyak cara untuk mengumpulkan dan menganalisis data serta menerapkan tindakan. Hal ini akan memperluas ‘tool box’ yang ada, yang menciptakan cara baru untuk melihat masalah dan mengidentifikasi peluang.
Dengan demikian, alat dan teknik Industri 4.0 dapat menjadi salah satu solusi akhir di setiap inisiatif Continuous Improvement. Misalnya, kita dapat mengidentifikasi dan menghilangkan waste dalam suatu proses dan kemudian — untuk lebih mengurangi variasi dan waktu tunggu proses tersebut — menerapkan Robotic Process Automation (RPA).
Jadi, pertama-tama kita harus menganalisis proses dari perspektif Lean Six Sigma dan kemudian mengimplementasikan RPA. Jika tidak, pada akhirnya kita akan mengotomatisasi pemborosan dalam suatu proses. Ini adalah salah satu contoh saja.
Ciri khas Industri 4.0 adalah menggabungkan teknologi inovatif yang mengubah cara organisasi beroperasi. Salah satu inovasi utama adalah sensor yang digunakan dalam IoT. Sensor ini memungkinkan pengumpulan data di semua tingkatan dalam value stream. Data itu kemudian digunakan untuk analisis yang lebih canggih dan terperinci.
Data yang lebih tepat ini dapat membantu memperkuat pendekatan berbasis data dari Lean Six Sigma, menurut sebuah makalah yang diterbitkan oleh International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology.
“Industry 4.0 memungkinkan perencanaan rencana produksi secara real-time, bersama dengan pengoptimalan mandiri yang dinamis,” menurut sebuah kutipan dalam makalah tersebut. Lebih lanjut, penulis menunjukkan bahwa analisis tingkat lanjut dapat “meningkatkan kinerja proyek Lean Six Sigma” dengan pengumpulan dan analisis data yang lebih cepat.
Hal tersebut, pada gilirannya, mengarah pada identifikasi pemborosan yang lebih cepat dan akar masalah penyebab variasi yang dapat menyebabkan kesalahan.
Bagaimana Lean Six Sigma Mendukung Industri 4.0
Lean Six Sigma menggabungkan dua metodologi proses – Lean dan Six Sigma. Lean berfokus terutama pada menghilangkan pemborosan dan semua bagian proses yang tidak bernilai tambah (waste), dengan nilai yang didefinisikan sebagai apa yang menguntungkan pelanggan. Dengan kata lain, nilai adalah sesuatu yang pelanggan bersedia membayarnya.
Six Sigma menawarkan tools dan teknik yang dapat menghilangkan cacat (defect) dan kesalahan dalam suatu proses, mengurangi variasi dan memungkinkan lebih banyak konsistensi dalam menciptakan produk berkualitas.
Tools dan teknik yang ditemukan di kedua metode dapat membantu proses Industri 4.0 menggunakan teknologi canggih untuk meningkatkan suatu proses, pada akhirnya, terus mengalami perbaikan yang signifikan.
Banyak yang percaya bahwa teknologi baru entah bagaimana menggantikan praktik-praktik business process improvement "gaya lama". Namun, banyak keterampilan di bidang continuous improvement yang malahan akan jadi penting di masa depan untuk membuat keputusan yang tepat untuk proses terkait, bukan dari perspektif teknologi saja.
Saat ini, sementara ada fokus yang sangat kuat pada keterampilan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), kita tidak boleh melupakan keterampilan continuous improvement yang lebih merupakan soft skill, seperti manajemen perubahan, manajemen proyek, dan penilaian proses.
Ada sebuah pernyataan yang sangat terkenal: knowledge is power. Dalam konteks ini, pernyataan tersebuat terasa sangat tepat. Manajer dan karyawan dengan pengetahuan mengenai Lean Six Sigma memiliki posisi yang lebih baik untuk mengambil peran aktif dalam memastikan teknologi baru dimasukkan ke dalam operasi mereka dengan cara yang berarti.
Banyaknya data yang dikumpulkan oleh inovasi Industri 4.0 tidak akan berdampak apa-apa bagi perusahaan jika tidak dibersihkan dan diformat sehingga dapat dianalisis dengan baik untuk memberikan wawasan yang terinformasi dan dapat ditindaklanjuti yang dapat meningkatkan bisnis.
Seorang ahli bahasa akan selalu dibutuhkan untuk menerjemahkan dan membagikan kisah unik yang hanya dapat diceritakan oleh data kepada kita. Oleh karena itu, untuk operasi apa pun, sangat penting untuk memulai dengan kerangka kerja Lean Sis Sigma sejak awal dan menyaksikan transformasi berbasis data muncul, berkembang, dan berproses dalam iklim bisnis yang kompetitif.
Prinsip-prinsip bagaimana menjalankan lini produksi, menemukan cacat dan kemacetan, meningkatkan kapasitas, menghilangkan pemborosan atau bekerja lebih efisien dan sebagainya masih merupakan bagian dari operasi manufaktur. Cara memodifikasi operasi di lingkungan baru ini membutuhkan adaptasi, dengan menggabungkan apa yang telah kita pelajari tentang manufaktur dalam beberapa dekade terakhir dengan semua manfaat baru dari Industri 4.0.
Menggunakan metode analisis canggih untuk memecahkan tantangan manufaktur yang sama yang kita hadapi selama bertahun-tahun akan mempercepat kemampuan kita untuk mencapai keunggulan operasional dan bisnis.
Praktisi Lean Six Sigma tahu di mana dan bagaimana mengumpulkan data, menerjemahkan data mentah menjadi cerita yang praktis dan menarik, memberikan informasi yang ditargetkan dan mengembangkan strategi yang dapat ditindaklanjuti dalam menanggapi data yang dikumpulkan. Peran mereka tidak akan berkurang karena banyaknya data yang tersedia. Alih-alih, keahlian mereka akan dibutuhkan sekarang lebih dari sebelumnya karena mereka mampu memandu pengambilan keputusan seputar volume data yang jauh lebih besar dengan lebih baik, lebih cepat.
Lebih penting lagi, keahlian mereka memungkinkan mereka untuk menyaring Big Data dengan cara yang bisa sangat melelahkan bagi mereka yang tidak terlatih. Bayangkan saja – apa yang dulu bisa dilakukan dengan laptop dan Minitab, misalnya, menggunakan empat atau lima variabel, sekarang bisa dilakukan di data lake dengan 400, 500, 600+ variabel.
Selain itu, Industri 4.0 menyediakan infrastruktur yang berpotensi meningkatkan kapabilitas organisasi dalam menerapkan Lean Six Sigma, baik di tingkat operasional maupun perusahaan. Di tingkat operasional, metrik data kinerja dan operasional dapat ditransmisikan secara real time yang memungkinkan peningkatan di tingkat operasional. Dengan mengintegrasikan Lean Six Sigma dan Industri 4.0, banyak manfaat telah diidentifikasi seperti perkiraan cacat proses dalam proses yang kompleks, peningkatan kualitas produk dan layanan, dan pengurangan biaya yang signifikan.